Rabu, 19 September 2012

Bersandar Hanya kepada Allah Tausyiah Aa Gym

Bersandar Ha kepada Allah K.H. Abdullah Gymnastiar Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini kecuali orang yg tak memiliki sandaran selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yg menguasai segala-galanya; mutlak tak ada satu celah pun yg luput dari kekuasaan Allah tak ada satu noktah sekecil apapun yg luput dari genggaman Allah. Total sempurna segala-gala Allah yg membuat Allah yg mengurus Allah yg menguasai.
Adapun kita manusia diberi kebebasan utk memilih “Faalhamaha fujuraha wataqwaaha” “Dan sudah diilhamkan di hati manusia utk memilih mana kebaikan dan mana keburukan”. Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan kita tinggal memilih mana yg akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh krn itu jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk kecuali dirinyalah yg memilih menjadi buruk naudzubillah.
Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yg bersandar kepada Allah mengakibatkan dunia ini atau siapapun terlampau kecil utk menjadi sandaran baginya. Sebab seseorang yg bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiang diambil karena dia akan terguling akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi takut kursi diambil. Begitulah orang-orang yg panik dalam kehidupan ini krn dia bersandar kepada kedudukan bersandar kepada harta bersandar kepada penghasilan bersandar kepada kekuatan fisik bersandar kepada deposito atau sandaran-sandaran yg lainnya.
Padahal semua yg kita sandari sangat mudah bagi Allah {mengatakan ‘sangat mudah’ juga ini terlalu kurang etis} atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yg kita sandari. Namun andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yg menguasai tiap kejadian “laa khaufun alaihim walahum yahjanun’ kita tak pernah akan panik Insya Allah.
Jabatan diambil tak masalah krn jaminan dari Allah tak tergantung jabatan kedudukan di kantor di kampus tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita bahkan tak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan kita akan takut kehilangannya. Akibat kita akan berusaha mati-matian utk mengamankan dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.
Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah dgn ikhlas ‘ya silahkan .. Buat apa bagi saya jabatan kalau jabatan itu tak mendekatkan kepada Allah tak membuat saya terhormat dalam pandangan Allah?’ tak apa-apa jabatan kita kecil dalam pandangan manusia tapi besar dalam pandangan Allah krn kita dapat mempertanggungjawabkannya. Tidak apa-apa kita tak mendapatkan pujian penghormatan dari makhluk tapi mendapat penghormatan yg besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta tak sulit bagi Allah sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta tapi oleh Allah diberi penyakit seharga 16 juta sudah tekor itu.
Oleh krn itu jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada tabungan. Pu tabungan uang mudah bagi Allah utk mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengganti dan lbh besar dari tabungan kita. Demi Allah tak ada yang harus kita gantungi selain hanya Allah saja. Pu bapak seorang pejabat punya kekuasaan mudah bagi Allah utk memberikan penyakit yg membuat bapak kita tak bisa melakukan apapun sehingga jabatan harus segera digantikan.
Pu suami gagah perkasa. Begitu kokoh lalu kita merasa aman dgn bersandar kepada apa sulit bagi Allah membuat sang suami muntaber akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina lalu menggigit sehingga terjangkit demam berdarah maka lemahlah dirinya. Jangankan utk membela orang lain membela diri sendiri juga sudah sulit walaupun ia seorang jago beladiri karate.
Otak cerdas tak layak membuat kita bergantung pada otak kita. Cukup dgn kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dgn kepala bagian belakang membentur tembok bisa geger otak koma bahkan mati.
Semakin kita bergantung pada sesuatu semakin diperbudak. Oleh krn itu para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi rizki suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah suami tiap saat bisa tak berdaya. Suami pergi ke kanotr maka hendak istri menitipkan kepada Allah.
“Wahai Allah Engkaulah penguasa suami saya. Titip mata agar terkendali titip harta andai ada jatah rizki yg halal berkah bagi kami tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu hingga berjumpa dgn keadaan jatah rizki yg barokah tapi kalau tak ada jatah rizki tolong diadakan ya Allah krn Engkaulah yg Maha Pembuka dan Penutup rizki jadikan pekerjaan menjadi amal shaleh.” Insya Allah suami pergei bekerja di back up oleh do’a sang istri subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan diri hanya kepada Allah. “Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu” . Yang hati bulat tanpa ada celah tanpa ada retak tanpa ada lubang sedikit pun ; Bulat total penuh hati hanya kepada Allah maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu pada hamba yg bergantung kepada makhluk apalagi bergantung pada benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan tiap makhluk ada dalam kekuasaan Allah. “Innallaaha ala kulli sai in kadir”.
Oleh krn itu harus bagi kita utk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung siap-siap saja makin banyak kecewa. Sebab yg kita gantungi “Lahaula wala quwata illa billaah” {tiada daya dan kekuatan yg dimiliki kecuali atas kehendak Allah}. Maka sudah seharus hanya kepada Allah sajalah kita menggantungkan kita menyandarkan segala sesuatu dan sekali-kali tak kepada yg lain Insya Allah.
sumber : file chm bundel Tausyiah Manajemen Qolbu Aa Gym
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar