Minggu, 09 September 2012

hasil pemikiran hari ini, bsok?


Banyak orang yang tidak segan untuk memutar otaknya berkali-kali ketika diterjang berbagai permasalahan hidup. Memang, begitu semestinya akal diciptakan oleh Tuhan untuk manusia. Tidak sedikit pula yang kelak menjadi korban atas pemikiran-pemikiran itu. Begini saja. Akui dalam hati, seberapa sering pikiran-pikiran kita menjadi hantu bagi diri sendiri. Mungkin tidak setiap hari, tapi sering, kan?
Ketika kita diberikan pilihan untuk bahagia atau menderita karena pilihan, pasti dengan akal sehat, akan memilih bahagia. Tapi, berapa banyak orang yang sadar, bahwa ketika memilih bahagia, mereka sedang mengantarkan perasaan mereka pada penderitaan? Saking semangatnya mengejar kebahagiaan, banyak yang lupa bahwa ternyata mereka sudah cukup bahagia dan menginginkan lebih.
Sering saya katakan, bahwa, “Bahagia itu Pilihan”. Bahagia itu masalah permainan hati dan akal sehingga sanggup menopang diri sendiri untuk jadi sampai di titik itu. Saya pernah berbincang dengan seorang teman mengenai definisi ini, apakah bedanya karyawan dengan bayaran 1 juta perbulan dibandingkan dengan yang bergaji 10 juta? Semuanya bisa bahagia, katanya. Sempat saya menolak pernyataan ini. Bahagia akan selalu berbanding lurus dengan banyaknya uang yang dimiliki. Sebenarnya, banyak sinetron sudah mewakili percakapan ini, tapi ntah mengapa pembahasan ini tiba-tiba terasa penting untuk ditarik kesimpulan. Ketika dengan uang duapuluh ribu rupiah kita memilih untuk makan dengan banyak lauk di warung tegal, dan yang lain memilih untuk membeli air mineral impor dari Perancis, semuanya bisa jadi bahagia, dan semuanya juga bisa tidak bahagia. Tergantung dari sisi mana ingin meneropong kebahagiaan.
Begitu juga dengan aksesori kehidupan, seperti cinta. Banyak anak muda yang begitu khawatir dengan putus cinta. Banyak orang yang tidak ingin kekasihnya tidak mencintainya lagi. Berapa banyak orang yang tenang-tenang saja ketika kekasihnya tidak mencintainya lagi dan memilih orang lain? Tidak banyak, saya rasa. Bukan ingin menjadi orang yang tidak berperasaan atau menghiraukan esok hari. Tapi, apakah apa yang kita rasakan hari ini adalah buah pemikiran kita kemarin? Dan apa yang akan terjadi esok hari adalah hasil harapan kita di hari ini? Nikmati saja berkah bahagia di detik ini, toh, kita sama-sama tidak tahu rencana Tuhan.
Ketika kita terlalu banyak berpikir tentang apa yang akan terjadi di hari esok, memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi, terlalu banyak menimbang manfaat dan rugi atas sesuatu, maka semakin banyak pula waktu kita tersedot untuk merancang kebahagiaan.
Kebahagiaan tidak perlu direncanakan terlalu matang karena kebahagiaan sudah ada dalam pikiran kita, jadi, ya, nikmatin aja. Photobucket
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar