Pengaruh Buruk Perbuatan Dosa
penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Sakinah Mutiara Kata 24 - Agustus - 2007 21:36:26
Setiap hari kita tenggelam dlm keni’matan yg dilimpahkan oleh
Ar-Rahman. Nikmat kesehatan keamanan ketenangan rizki berupa makanan
minuman pakaian dan tempat tinggal. Belum lagi ni’mat iman bagi ahlul
iman. Sungguh dlm tiap tarikan napas ada ni’mat yg tdk terhingga. Dari
mulai tidur bangun dari tidur hingga tidur kembali ada ni’mat yg tiada
terkira. mk Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berulang-ulang
menegaskan dlm surat Ar-Rahman:
فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka ni’mat Rabb kalian yg manakah yg kalian berdua dustakan?”
Nikmat
Allah Subhanahu wa Ta’ala yg berlimpah ini semesti dihadapi dgn penuh
rasa syukur. Namun sangat disesali hanya sedikit dari para hamba yg mau
bersyukur:
وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yg mau bersyukur.”
Kebanyakan
dari mereka mengkufuri ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atau malah
mempergunakan ni’mat tersebut utk bermaksiat dan berbuat dosa kepada
Ar-Rahman. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka banyak
kebaikan namun mereka membalas dgn kejelekan.
Demikianlah keadaan
anak manusia tiap hari selalu berbuat dosa. Kita pun tdk luput dari
berbuat dosa baik krn tergelincir ataupun sengaja memperturutkan hawa
nafsu dan bisikan setan yg selalu menggoda. Amat buruklah keadaan kita
bila tdk segera bertaubat dari dosa-dosa yg ada dan menutupi dgn berbuat
kebaikan. Karena perbuatan dosa itu memiliki pengaruh yg sangat jelek
bagi hati dan tubuh seseorang di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Al-Imam
Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu menyebutkan secara
panjang lebar dampak negatif dari dosa. Beberapa di antara bisa kita
sebutkan di sini sebagai peringatan:
1. Terhalang dari ilmu yg haq. Karena ilmu merupakan cahaya yg dilemparkan ke dlm hati sementara maksiat akan memadamkan cahaya.
Tatkala
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu belajar kepada Al-Imam Malik
rahimahullahu Al-Imam Malik terkagum-kagum dgn kecerdasan dan
kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i. Al-Imam Malik pun berpesan pada
murid ini “Aku memandang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memasukkan
cahaya ilmu di hatimu. mk janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dgn
kegelapan maksiat.”
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu pernah bersajak:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي
فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ
وَ فَضْلُ اللهِ لاَ يُؤْتاَهُ عَاصِ
“Aku mengeluhkan jelek hafalanku kepada Waki’
Maka ia memberi bimbingan kepadaku agar meninggalkan maksiat
Ia berkata “Ketahuilah ilmu itu merupakan keutamaan
dan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk diberikan kepada orang yg berbuat maksiat.” 1
2. Terhalang dari beroleh rizki dan urusan dipersulit.
Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba sebagaimana firman-Nya:
وَ مَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Siapa
yg bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang
tersebut jalan keluar dan memberi rizki dari arah yg tiada
disangka-sangkanya.”
وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Siapa yg bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan bagi kemudahan dlm urusannya.”
Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.
3.
Hati terasa jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa asing
dengan-Nya sebagaimana jauh pelaku maksiat dari orang2 baik dan dekat
dia dgn setan.
4. Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelap malam.
Karena ketaatan adl cahaya sedangkan maksiat adl kegelapan. Bila
kegelapan itu bertambah di dlm hati akan bertambah pula kebingungan si
hamba. Hingga ia jatuh ke dlm bid’ah kesesatan dan perkara yg
membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yg keluar sendirian
di malam yg gelap dgn berjalan kaki.
Bila kegelapan itu semakin
pekat akan tampaklah tanda di mata si hamba. Terus demikian hingga
tampak di wajah yg menghitam yg terlihat oleh semua orang.
5. Maksiat
akan melemahkan hati dan tubuh krn kekuatan seorang mukmin itu
bersumber dari hatinya. Semakin kuat hati semakin kuat tubuhnya. Adapun
orang fajir/pendosa sekalipun badan tampak kuat namun sebenar ia
selemah-lemah manusia.
6. Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan
menghilangkan keberkahan sementara perbuatan baik akan menambah umur dan
keberkahannya. Mengapa demikian? Karena kehidupan yg hakiki dari
seorang hamba diperoleh bila hati hidup. Sementara orang yg hati mati
walaupun masih berjalan di muka bumi hakikat ia telah mati. Oleh karena
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan orang kafir adl mayat dlm keadaan
mereka masih berkeliaran di muka bumi:
أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ
“Mereka itu adl orang2 mati yg tdk hidup.”
Dengan
demikian kehidupan yg hakiki adl kehidupan hati. Sedangkan umur manusia
adl hitungan kehidupannya. Berarti umur tdk lain adl waktu-waktu
kehidupan yg dijalani krn Allah Subhanahu wa Ta’ala menghadap kepada-Nya
mencintai-Nya mengingat-Nya dan mencari keridhaan-Nya. Di luar itu
tidaklah terhitung sebagai umurnya.
Bila seorang hamba berpaling dari
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyibukkan diri dgn maksiat berarti
hilanglah hari-hari kehidupan yg hakiki. Di mana suatu hari nanti akan
jadi penyesalan baginya:
يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Aduhai kira dahulu aku mengerjakan amal shalih utk hidupku ini.”
7.
Satu maksiat akan mengundang maksiat lain sehingga terasa berat bagi si
hamba utk meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana ucapan sebagian salaf:
“Termasuk hukuman perbuatan jelek adl pelaku akan jatuh ke dlm kejelekan
yg lain. Dan termasuk balasan kebaikan adl kebaikan yg lain. Seorang
hamba bila berbuat satu kebaikan mk kebaikan yg lain akan berkata
‘Lakukan pula aku.’ Bila si hamba melakukan kebaikan yg kedua tersebut
mk kebaikan ketiga akan berucap yg sama. Demikian seterusnya. Hingga
menjadi berlipatgandalah keuntungan kian bertambahlah kebaikannya.
Demikian pula kejelekan.”
8. Maksiat akan melemahkan hati dan secara
perlahan akan melemahkan keinginan seorang hamba utk bertaubat dari
maksiat hingga pada akhir keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.
9.
Orang yg sering berbuat dosa dan maksiat hati tdk lagi merasakan jelek
perbuatan dosa. Malah berbuat dosa telah menjadi kebiasaan. Dia tdk lagi
peduli dgn pandangan manusia dan acuh dgn ucapan mereka. Bahkan ia
bangga dgn maksiat yg dilakukannya.
Bila sudah seperti ini model
seorang hamba ia tdk akan dimaafkan sebagaimana berita dari Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ
الْمُجَاهِرِيْنَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ
بِاللَََّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ
فيَقُوْلُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا. وَقَدْ
بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
“Setiap
umatku akan dimaafkan kesalahan/dosa kecuali orang2 yg berbuat dosa dgn
terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dgn terang-terangan adl
seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup
perbuatan jelek yg dilakukan tersebut2 namun di pagi hari ia berkata
pada orang lain “Wahai Fulan tadi malam aku telah melakukan perbuatan
ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dlm keadaan Rabb menutupi
kejelekan yg diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri
tutupan Allah yg menutupi dirinya.”
10. Setiap maksiat yg dilakukan
di muka bumi ini merupakan warisan dari umat terdahulu yg telah
dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perbuatan homoseksual adl warisan kaum Luth.
Mengambil hak sendiri lbh dari yg semesti dan memberi hak orang lain dgn mengurangi adl warisan kaum Syu’aib.
Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adl warisan dari kaum Fir’aun.
Sombong dan tinggi hati adl warisan kaum Hud.
11. Maksiat merupakan sebab dihinakan seorang hamba oleh Rabbnya.
Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan seorang hamba mk tdk ada seorang pun yg akan memuliakannya.
وَمَنْ يُهِنِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ
“Siapa yg dihinakan Allah niscaya tdk ada seorang pun yg akan memuliakannya.”
Walaupun
mungkin secara zhahir manusia menghormati krn kebutuhan mereka terhadap
atau mereka takut dari kejelekan namun di hati manusia ia dianggap
sebagai sesuatu yg paling rendah dan hina.
12. Bila seorang hamba
terus menerus berbuat dosa pada akhir ia akan meremehkan dosa tersebut
dan menganggap kecil. Ini merupakan tanda kebinasaan seorang hamba.
Karena bila suatu dosa dianggap kecil mk akan semakin besar di sisi
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dlm Shahih- menyebutkan ucapan sahabat yg mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ
الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ
أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ
مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا
“Seorang mukmin memandang
dosa-dosa seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yg ditakutkan akan
jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosa
seperti seekor lalat yg lewat di atas hidung ia cukup mengibaskan tangan
utk mengusir lalat tersebut.”
13. Maksiat akan merusak akal. Karena
akal memiliki cahaya sementara maksiat pasti akan memadamkan cahaya
akal. Bila cahaya telah padam akal menjadi lemah dan kurang.
Sebagian salaf berkata: “Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hilang akalnya.”
Hal
ini jelas sekali krn orang yg hadir akal tentu akan menghalangi diri
dari berbuat maksiat. Ia sadar sedang berada dlm pengawasan-Nya di bawah
kekuasaan-Nya ia berada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala di bawah
langit-Nya dan para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala menyaksikan
perbuatannya.
14. Bila dosa telah menumpuk hatipun akan tertutup dan
mati hingga ia termasuk orang2 yg lalai. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekali-kali tdk sebenar apa yg selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata menafsirkan ayat di atas: “Itu adl dosa di atas dosa hingga mati hatinya.”3
15.
Bila si pelaku dosa enggan utk bertaubat dari dosa ia akan terhalang
dari mendapatkan doa para malaikat. Karena malaikat hanya mendoakan
orang2 yg beriman yg suka bertaubat yg selalu mengikuti Al-Qur’an dan
Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ
يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَ
لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا
فَاغْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيْلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ
الْجَحِيْمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي
وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ
وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. وَقِهِمُ
السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ
وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Malaikat-malaikat yg memikul
Arsy dan malaikat yg berada di sekeliling bertasbih memuji Rabb mereka
dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang2 yg
beriman seraya berucap ‘Wahai Rabb kami rahmat dan ilmu-Mu meliputi
segala sesuatu mk berilah ampunan kepada orang2 yg bertaubat dan
mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yg
menyala-nyala. Wahai Rabb kami masukkanlah mereka ke dlm surga Adn yg
telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang2 yg shalih di antara
bapak-bapak mereka istri-istri mereka dan keturunan mereka semuanya.
Sesungguh Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha memiliki hikmah. Dan
peliharalah mereka dari kejahatan. orang2 yg Engkau pelihara dari
pembalasan kejahatan pada hari itu mk sungguh telah Engkau anugerahkan
rahmat kepada dan itulah kemenangan yg besar’.”
Demikian beberapa
pengaruh negatif dari perbuatan dosa dan maksiat yg kami ringkaskan dari
kitab Ad-Da`u wad Dawa` karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu hal.
85-99. Semoga dapat menjadi peringatan.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
1 Lihat Diwan Asy-Syafi’i Al-Fawa`id Al-Bahiyyah dan Syarh Tsulatsiyyat Al-Musnad .
2 Yakni tdk ada seorang pun yg mengetahuinya.
3 Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an 12/190.
Sumber: www.asysyariah.com